Pilih Jus Banjir apa Keripik Sampah Pak?

“Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ribut
Ruméh ane kebakaran gare-gare kompor mleduk
Ati ane gemeteran, wara-wiri keserimpet
Rumah ane kebanjiran gara-gara got mampet” 

Assalamu’alaikum. . .

Jakarta memang banyak cerita. Meninggalkan banyak kisah jika berkunjung dan rehat sejenak di tengah-tengah ibu kota. Kalau yang di luar pulau tidak perlu berkunjung, tinggal lihat saja di layar televisi dengan berbagai berita dan rona masyarakat serta budayanya. Jakarta kota besar dengan total penduduk 10.187.595 jiwa (data november 2011) belum lagi di tambah dengan total penduduk dari luar Jakarta yang masuk dan keluar untuk bekerja. Bisa dibayangkan begitu sibuk dan padatnya kota yang kecil di ujung pulau jawa ini. Pagi dari jam 3 pagi sampai jam 5 pagi di ramaikan oleh para pedagang di pasar-pasar, jam 5 pagi sampai jam 5 sore di padati orang-orang yang berangkat dan pulang sekolah, kerja, serta berekreasi. Jam 5 sore sampai jam 12 malam di padati oleh orang kantoran yang pulang kerja. Belum lagi jalan-jalan di jakarta banyak dilewati kendaraan lintas provinsi. Jakarta kalau sepi saat lebaran, itu juga 1 sampai 2 hari saja.
Jakarta sebagai jantung dari negara ini cukup menarik banyak perhatian dari kalangan untuk bisa datang, entah tujuannya untuk bekerja, menetap untuk tinggal bahkan hanya untuk liburan saja. Dengan begitu banyaknya jumlah penduduk yang semakin membuat sesak Jakarta menjadi salah satu kota terpadat di Indonesia. Memang hebat orang Indonesia, ibarat memiliki jiwa penjajah yang tinggi dengan memproduksi banyak anak. Bukan Cuma Jakarta tetapi di seluruh daerah. jiwa penjajah dengan konsep memproduksi banyak anak yang kemudian setelah dewasa kita kirim keluar negeri untuk bekerja. Dengan keyakinan yang tinggi 1 abad atau 2 abad kedepan mayoritas penduduk dunia akan dikuasai oleh masyarakat Indonesia.
Saat ini sedang ramai-ramainya pencalonan dan pemilihan calon baru Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan sebelum jakarta tenggelam. Jakarta yang dipimpin pak Fauzi Bowo akan berakhir sebentar lagi. Jejak rekamnya pasti masih teringat oleh penduduk jakarta. “Kita harus bedakan mana itu Banjir dan air tergenang” itu kata-kata Pak Gubernur yang sekarang memimpin. Kata-kata itu mengingatkan kita ketika melihat jakarta sedang kebanjiran. Terimakasih kepada Gubernur yang sudah memimpin dan ikut membangun kota jakarta dari masa ke masa. Namun sampai sekarang masih banyak problema yang harus diselesaikan mulai dari permasalahan klasik ataupun yang terbaru lima calon Gubernur DKI Periode 2012-2017 yaitu 1) Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok); 2) Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli; 3) Hidayat Nur Wahid dan Didik Junaedi Rachbini; 4) Faisal Basri dan Biem Benyamin; 5) Alex Noerdin dan Nono Sampono; 6) Hendardji Soepandji dan Ahmad Riza Satria. Kelima calon berlomba-lomba membenahi kota jarakta dengan segudang pengalamannya dan idenya. Saya selaku rakyat yang baik setidaknya memberikan sedikit sesuatu yang ganjal di pikiran. Semoga saja calon Gubernur yang ada bisa mampir ke Blog saya.
Banjir lagi banjir lagi. .
Terucap dari mulut warga Jakarta saat air tergenang dan berlebih di sungai, yang mampir di rumah-rumah setiap sudut pinggir kota. Banyak solusi atas ini mulai dari memperbaiki drainase, memperdalam sungai yang dangkal, membersihkan sungai dari sampah-sampah warga, sampai membuat sungai kanal timur dan barat untuk mengalirkan air di sungai-sungai yang tidak mampu menampung air kiriman dari kota tetangga. Kesadaran masyarakat dan tata kota jakarta menjadi permasalahan. Memang sepertinya sudah menjadi hobi bagi masyarakat Jakarta utnuk hidup instan, rumah deket kali mungkin biar buang sampah langsung dengan satu sentuhan, begitu juga dengan limbah perut yang langsung terbawa oleh cepatnya arus sungai, nyuci biasa di kali, mandi dan minum juga. Memang butuh kesadaran bagi kita semua. Mengadopsi dari negara maju yang mempunyai gorong-gorong di dalam tanah di dasar kota sebagai aliran air dan instalasi listrik menjadi dasar bagi mereka untuk menggulangi masalah banjir namun berhubung kota Jakarta sudah begitu padat dan di bangun gedung-gedung menjulang tinggi makan yang lebih tepat yaitu membangun jalur sungai baru atau alternatif dari kota tetangga agar langsung menuju laut dan tidak mampir dulu di Jakarta. Bukan cuma itu saja, peraturan daerah akan pembuangan limbah dari perusahaan-perusahaan besar ke sungai juga harus di disiplinkan. Bangun kesadaran masyarakat dan kedisiplinan PEMDA Jakarta yang bekerjasama dengan stakeholder agar bisa mengurangi bahkan menghilangkan banjir dari Jakarta.
Macet ko tiap saat. .
Waktu saya masih sekolah yang letaknya di pinggiran kota Jakarta saja sudah macetnya 2 kilometer apalagi di tengah kota?. Jakarta dengan kepadatanya pastilah punya problema demikian. Banyak faktor yang menimbulkan kemacetan mulai dari tidak teraturnya angkutan umum, banyaknya kendaraan pribadi, jalanan yang sempit di tambah lagi lebih sempit saat dibagi dengan jalur busway, dan banyaknya kendaraan yang hijrah dari kota tetangga. Problematika ini mungkin dapat terselesaikan dengan mengurangi jumlah kendaraan pribadi, bukan hanya seruan namun ketegasan dari negara ini. Bagaimana bisa menyerukan hal seperti itu namun produksi mobil di dalam negeri semakin tinggi dan kendaraan yang sudah lanjut usia masih beroprasi. Memang sulit menghindari ini, di lain sisi investor yang memiliki perusahaan kendaraan menginginkan keuntungan dengan meningkatkan total produksinya sedangkan batas usia kendaraan itu sendiri tidak jelas sehingga sirkulasi total kendaraan di Jakarta akan semakin bertambah. Bukan hanya bertambahnya jumlah mobil jika mobil-mobil yang sudah tua masih beroprasi tetapi keselamatan individu yang lebih berbahaya. Investor yang ada seharusnya menjadi pemicu bangsa kita untuk memproduksi mobil sendiri, mungkin sudah banyak bermunculan mobil-mobil karya anak bangsa tinggal keberanian kita untuk menendang investor luar negeri dan menggantikannya dengan mendirikan perusahaan milik pribumi untuk memproduksi mobil sendiri dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga negeri sendiri. Pembangunan yang merata mulai dari perekonomian maupun infratruktur mungkin jadi solusi, walaupun nyatanya sekarang jakarta sudah memiliki kota satelit seperti bekasi, tangerang, bogor, depok dan sekitarnya.
Banyak perampok, senggol dikit bacok. .
Jakarta bukan Cuma milik anak betawi tapi milik nusantara. Jawa, sunda, batak, macem-macem lagi dari ujung  sabang, ujung merauke sampe ujung kulon campur aduk di Jakarta. Tidak heran jika kehidupan di Jakarta sangatlah keras. Meleng sedikit barang hilang entah di terminal atau dipasar, jangankan barang mewah sandal jepit saja bisa raib di telan karamaian. Total penduduk yang padat, suhu yang panas, harga barang-barang yang mahal, sulit mendapatkan pekerjaan, anak terlantar, warga ada yang tidak mendapatkan KTP. Bagaimana tidak, pastilah banyak terjadi kriminalitas setiap detik dan setiap saat. Bingung memang memikirkan jakarta, di Glodok banyak dijual CD yang aneh-aneh namun polisi tidak berani mengusir. Tidak heran dengan Jakarta, masyarakat yang beragam dengan berbagai aktivitasnya sibuk dengan dirinya sendiri. Perampok mulai dari tingkat kecil (sandal jepit) sampai tingkat legislatif (anggota dewan yang korupsi) serta elitis (pejabat negara dengan proyekannya) dan mafia sudah hal umum yang kita ketahui namun sayangnya kita tidak tau siapa pelakunya. Aparat bertindak sedikit bisa langsung bacok. Begitulah sedikit imajinasi kota jakarta, entah realita atau hanya imajinasi saja. Kita tetap dukung aparat hukum yang ada di indonesia untuk memberantas kriminalitasjuga kurang agresif dalam melaksanakan tugasnya dengan baik dan menegakkan hukum sebaik-baiknya.
Akhirnye selese juge, aye nitip deh. .
Itu tuh kote jakarta, berhubung sekarang sedang rame Pencalonan Gubernur DKI Jakarta ddi Pemilihan Umum, mari kite same-same berdoe dan pilih tuh calon nyang bae buat Jakarte. Masyarakatnye ye pade sadar dan pemerintah daerahnya juga kudu kerja keras. Ade istilah nih dari bocah nyang pinteran dikit “Sangat buruk sekali orang yang mengecewakan pemimpinnya namun lebih buruk lagi jika kita mengecewakan masyarakat yang sangat berharap kepadap Pimpinan Jakarta dengan harapan Jakarta bisa lebih baik lagi”. Udah ah jangan kebanyakan ngomong, pegel juga mulut aye, udah nyok kite titipin kerja ini same Gubernur DKI Jakarta nyang terilih besok, jangan lupa Menu khusus khas jakarte . ”Mau Jus Banjir apa Keripik Sampah Pak?”. Jangan ketinggalan ye buat milih nanti, kaga keduman aje baru tau rasa. Santapan buat Pak Gubernur nyang bakal terpilih juga jangan lupa tuh, semoge aje habis ye, trus kaga banyak lagi dah menu khas jakarte lainnye. Kudu pake semangat dan kerja keras itu mah bukan Cuma ngebanyol biar kite sama-sama bisa bebas dari menu khas Jakarte ntu tuh, habis itu nyang nyisa tinggal Jakarte dengan keindahan dengan aktivitasnya.

Et dah iya gua lupa, wa’alaikumsalam. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s